Tampilkan postingan dengan label dinar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dinar. Tampilkan semua postingan

31 Mei 2012

Mata Ibu Pecah!!!!

Assalamualaikum..
Kemaren sore tiba-tiba muncul ide "mengajarkan kebajikan" pada Dinar. Just like this... 


Sekalinyaaaaa, lari si Dinar terbirit-birit meninggalkan sang emak yang lagi eksaiting lama ga main juling-juling mata. 
"Kyaaaaaaa, mata Ibu PECAH!!!" pekiknya sambil lari ke kamar.
Muahahahahahaha... 

Malemnya pas mau diajak siap-siap bobo. Biasanya memang ada ritual sikat gigi dan memeh dulu. Dinar yang sekarang sedang dalam masa Rebelling Period, macam-macam lah tingkahnya dalam rangka menolak ajakan emak untuk ke kamar mandi. Daku membujuk sambil bilang "Dinar, kaya apa mata Ibu tadi sore??" eh, secepat kilat Dinar menutup matanya dengan kedua tangan, tangan dia sendiri, bukan tangan emak ya.. Abis tu langsung nangissssssss.. Aissshhh, ga seru ah!

Nangis-nangis tetap daku giring ke kamar mandi. Matanya tetep ditutup dengan tangan dan jalan menunduk. Sikat gigi pun, sambil merem dan masih sambil...nangissss. Hahaha! Puas dah bilang, "Ibu ga tunjukin lagi mata "pecahnya", ni coba liat" tapi ga ngefek! 

Biasanya mau tidur selalu peyuk-peyuk dulu, maka malam ini tiada pelukan untukku, huhuuuu.. Asli, emak dipunggungin. Sampai Dinar bener-bener tidur pun beliau ga berani memandang mataku..
:a:

I'm sorry honey bunny sweety,
..emakkapokdotcom..

30 Mei 2012

Hari Rabu Tanpa Kata-kata



29 Mei 2012

Melahirkan Dinar, Part 2

15 Juli 2009,
Proses bersalin masih terus berlangsung. Semangat mulai kocar-kacir. Percaya diri mulai menipis seiring semakin lelahnya tubuh emak. Ada Ibu dan ade' yang menemani di rumah sakit. Ade' siap berbekal sebungkus Nasi Padang. Bikin tambah emosi ajah, haha.. Harumnya wangi Rendang, mana perut lapar. Dari semalam udah ga bisa makan karena ilang selera. Eh, dengan cuek dia makan di atas ranjang tempat daku yang jungkir balik ala cacing kepanasan. Mau kena sepak jua kekanak sikung nih!!

Jam 2 siang, dr. Handy muncul. "Loh, kok masih ketawa-ketawa??" heran beliau melihat pasiennya masih belum melahirkan juga. Cek bukaan lagi, dan masih tetep bukaan 3, masya Allah.. Dokter pergi sebentar dan kembali lagi menyatakan bahwa baby mungkin bermasalah. Yang pasti ketuban sudah terlalu lama pecah, sudah 12 jam berlalu, jadi ada resiko kena kuman apalah gitu.. Jeng,jeng!! Operasi Caesar langsung terbayang.

Daku meminta opsi induksi, tapi dokter bilang induksi perlu waktu dan dia ga tau apakah waktu yang diperlukan itu seimbang dengan air ketuban yang tersisa. Hedeh!! Kenapa ga sejak ketuban pecah, daku disarankan induksi. Memang sejak pertama kali datang, bidan hanya mengecek atas permintaanku aja.. selebihnya ya daku dibiarkan begitu saja.. Dokter juga baru menjenguk siang ini.. Kecewa dikit sih, karena peluang menjajal induksi yang katanya asoy luar biasa itu jadi ga bisa kurasakan. Maksudnya, setidaknya peluang bersalin normal itu masih terbuka, dengan mencoba mempercepat pembukaan lewat induksi.

Ok, sekarang sudah terlambat. Daku pun sudah sangat lelah. Telpon suami yang lagi tidur di rumah, suruh balik cepat ke rumah sakit. Padahal katanya baru aja tidur, hihi, kesian.. Begitu nyampe, kita diskusi dan akhirnya sepakat untuk segera caesar aja.. 

Tanda tangan dokumen untuk persetujuan operasi. Pasang infus. Pasang kateter, Ouchhh!! Maknyusss...  Ganti baju seragam warna hijau. Jam 4 kurang dikit daku didorong menuju ruang operasi. Pandangan mata kabur karena kacamata dilepaskan. Semuanya blurrr.. Masuk di ruangan yang dingin, langsung disuruh duduk membungkuk untuk suntik bius di tulang belakang. Baring lagi, ada nurse yang mencukurkan bagian di bawah sana. Hah, pertamakali dalam hidup, orang bebas melihat dan menyentuh bagian tubuh ini selain suami, huhu.. 

Dokter masuk dan bersiap-siap. Daku, karena blur lebih memilih untuk memejamkan mata. Mendengarkan aja suara-suara mereka yang ada di ruangan itu. Berdoa meminta perlindungan-Nya. Perut sudah mati rasa, mengerikan, ga bisa menggerakkan kaki sama sekali. Operasi mulai berjalan. Ga lama, perut rasa bergoyang-goyang sampai ranjang tempat daku berbaring juga rasanya bergoyang. Ya Allah, kupasrahkan segalanya pada-Mu.. Eh, dalam pandangan yang kabur terlihat 'sesuatu' diangkat, melewati tirai kain yang dipasang di dada ini untuk membatasi pandanganku ke arah lokasi pembedahan. "cewek bu, anaknya.." ada suara entah siapa, ah Alhamdulillah..

Tiba-tiba daku merasa mual, daku bilang ke seseorang di sampingku bahwa daku mau muntah. Dia ambilkan wadah yang biasa untuk menaruh peralatan medis kaya gunting dan sebangsanya itu, daku muntah dan seketika semuanya gelapppp...

Saat sadar daku sudah didorong menuju kamar pemulihan. Masih setengah teler karena efek bius, dipindahkan dari ranjang dorong sudah kaya ngangkat paus terdampar. Kedengaran nafas mereka terengah-engah, huahaha! 

Si Mas yang pertama kali kulihat. "Mas, tadi Ibu hampir mati..." ujarku lemah. Maksudnya saat tiba-tiba semuanya jadi gelap dan daku ga sadarkan diri. Kalo ingat sekarang jadi ketawa, haiyaaah memalukan banget. Tapi waktu itu sungguh menakutkan, suwer!!

Fresh from the oven!!
Dinara Safina Althafunnisa
Bibir sexy monyong-monyong, rambut lepek lengket karena air ketuban. Dinar ga langsung dimandiin setelah lahir. Besoknya baru mandi sama tante suster.

Status caesar karena KPD (Ketuban Pecah Dini)

Tandem bobo ..

Mereka yang turut gembira dengan kelahiran Dinar..

Dan, perjuangan masih belum berakhir ya sodara-sodara.. Sakit dan ngilu di bekas luka operasi membuat daku ga bebas bergerak. Air mata bercucuran menahan sakit. Tapi harus belajar jalan, biar cepat sembuh. Perjalanan ke toilet yang cuma beberapa langkah aja rasanya jauh ngalahin ke Mekkah. Belum lagi rasa aneh karena perut sudah ga gede membuncit lagi tapi berganti gelambiran lemak bergoyang-goyang yang bikin sakit jaitan setiap kali bergerak. Aduhai..

Belum lagi sakit di payudara yang membengkak kaya balon udara. Tapi susah luar biasa mau mengeluarkan isinya. Gentong doang gede, isi minim. Putingnya datar lagi, makin susah Dinar menyusu jadinya. Jadilah malam pertama setelah Dinar lahir kami langsung begadang. Dinar ngamuk karena haus sementara air susu belum keluar. Terpaksa menyerah pada susu formula, jadinya.. 

Saat itu daku berpikir, memang betul bahwa manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan setiap kejadian. Pengen bersalin normal eh mesti caesar. Pengen breastfeeding eh mesti kasi susu sapi. Kecewa banget, sempet merasa ga hebat dan bodoh karena gagal di 2 hal paling penting. Apalah daya, sekuat apapun memompa susu, hasilnya menyedihkan. Padahal sudah makan semua yang katanya bisa memperbanyak air susu, dari daun katu, kacang tanah, apa aja yang orang bilang daku coba. Tapi nihil, belum lagi karena Dinar yang selalu ngamuk ketemu si puting datar. 

Akhirnya daku menyerah pada susu formula. Membujuk hati yang sedih dengan berkata 'gpp na, ga bisa breastfeeding bukan berarti ga bisa jadi Ibu yang baik'. Daripada bersedih hati lebih baik berkonsentrasi menjaga Dinar dan merawat luka jaitan yang masih nyut-nyutan.

Seminggu kemudian, suami harus balik kerja lagi. Sendirian daku menjaga Dinar. Kadang-kadang dibantu Ibuku juga, terutama Dinar pas lagi pengen cs sama Bang Haji Rhoma Irama. Demen begadang euy!! Selama 2 bulan pertama usianya, Dinar memang masih bedagang malam hari dan tidur nyenyak di siang hari. Tapi Ibuku juga masih aktif bekerja di instansi pemerintahan, jadi daku ga terlalu mengharapkan lah bantuannya. Beliau juga pasti lelah.

So, begitulah ceritanya. Alhamdulillah Dinar lahir sehat dan sempurna. Sebentar lagi, mau ulang tahun yang ke-3. Juli nanti. Insya Allah bisa menjadi anak yang solehah, pintar, menjadi kebanggaan orang tua dan kebanggan Allah SWT, amiiin.. 

Melahirkan Dinar, Part 1

Assalamualaikum..
Dulu kan sudah pernah cerita tentang masa-masa kehamilan Dinar, disana dan disono kok nggantung ya ada cerita hamil tapi ga ada cerita brojolnya.. Hari ini baru dateng mood bernostalgia mengenang masa-masa penuh perjuangan dulu. Maka di entry kali ini daku akan paparkan kejadian sekitar 3 tahun yang lalu itu. Aikkk, kenapakah ada rasa geli kalau menulis kalimat dengan bahasa baku kaya di buku-buku ilmiah?? Langsung senyum-senyum rasa GELI. Geli karena apakah?? *bolak-balik tepuntal-tepelilit

Beberapa hari sebelum Dinar lahir daku sempet "bisik-bisik" ke beliau, minta supaya kalo mau lahir ditemenin Ayah silahkan brojol pada tanggal 14,15, atau 16 karena di tanggal itu Ayah ada di Samarinda. Sejak kandungan 7 bulan daku memang sudah stay di Samarinda, karena terlalu takut mau melahirkan di Bengalon. Fasilitas disana sangat tidak lengkap. Jadilah si Mas tersayang mesti bolak-balik kerja dan jengukin sang istri yang makin hari main gendut aja. Terakhir cek ke dokter, berat badan sekitar 68-69kg. Dengan tinggi yang cuma 155, mohon jangan dibayangkan betapa gendhutnya daku. 

Tanggal 13 malem, sudah muncul rasa ga nyaman. Mas udah dateng dari Bengalon. Rasa mau poop tapi setiap ke toilet, ga ada apapun yang keluar. Masih bisa tidur dengan nyaman, sesekali terbangun karena hasrat pengen poop, tapi karena tau bakalan ga ada apa-apa jadi sukses diabaikan. Mending bobo aja berpelukaaannn.. Menjelang jam 4 subuh, rasa pengen poop makin kenceng. Pergi ke toilet, ternyata ada percikan darah segar di kloset. Ya Allah, takutnya.. Ngeri melihat darah. Tapi masih bisa balik tidur lagi doong..

Tanggal 14 pagi, bangunin si Mas buat nemenin jalan pagi. Sesekali sakit kontraksi datang, belum teratur jaraknya. Rute jalan cukup jauh, sekitar 2km bolak-balik. kalo kontraksi dateng adegan remes-meremes tangan suami pun berlangsung. Redho ga redho, tetap daku kacak! Seharian, kontraksi datang dan pergi. Masih bisa terlelap buat bobo ciang. 

Malem, abis Maghrib kontraksi terpantau mulai teratur. Siap-siap ke RS. Dirgahayu. Naik motor sajah, sakit mulai aduhai. Ga sanggup memandang orang-orang sepanjang jalan, emosi aja udah bawaannya! Check-in di pavilyun Gemma, khusus bersalin. Surat rekomendasi dari dr. Handy SPOG diserahkan ke bidan yang menerima kami. Eh, ga sampe 15 menit, dr. Handy muncul di ruangan observasi. Dok, bukannya lagi praktek jam-jam segini?? 

Cek bukaan dengan Periksa Dalam. Ouchhh! Langsung mau nendang dr. Handy dah rasanya.. Dengan sakit yang mulai menggila, daku mengira sudah bukaan 5 setidaknya. Tapi ternyata.. baru bukaan 1!! Aww, ga kebayang bukaan 1 udah sakit pengen jingkrak-jingkrak, gimana bukaan 8,9,10...??!! Disarankan tetap di rumah sakit. Baiklah.

Ber-piss ria ..


Menginaplah kami berdua di ruangan observasi. Kalo mau mengikuti, udah mau jejeritan. Tapi bertahan dengan menggenggam pinggiran ranjang. Mengalirkan rasa sakit ke benda mati. Mengaduh-aduh sambil beristighfar. Semakin malam, mata mengantuk. Kontraksi hilang, tidur beberapa saat. Kontraksi datang, mari berkejang-ria melawan rasa sakit. Suami ikut berjuang bersama-sama, kesian juga tangan beliau habis daku remas dengan ganas setelah capek menggenggam pinggiran ranjang. 

Feeling, perjuangan masih akan sangat lama, maka daku biarkan suami tidur di sofa yang ada di ruang tunggu. Sekitar jam 2 dini hari, Tussss! basah menggenang di sarung yang daku pakai. Ketuban sudah pecah. Bidan jaga ngecek bukaan, dengan Periksa Dalam lagi. Bukaan 3, katanya. Baiklah.

Kebosanan melanda. Minta perawat bangunin si Mas, pengen jalan-jalan. Berjalanlah kami di subuh buta, menyusuri koridor pavilyun sampe ke lapangan parkir. Kalo sakit datang, daku peluk si Mas. Air mata sudah menitik. Sampe terdengar azan sholat Subuh baru kembali ke kamar.

Waktu berjalan, tanggal 15 sudah. Bukaan masih 3. Jam 6 pagi, daku gagahkan mandi karena badan terasa lengket karena keringat. Ruangan ada kipas angin di plafon, tapi ga ngefek tuh.. Mandi penuh perjuangan. Kalo sakit datang, meringkuk berpegangan di toilet. Dingin pulak airnya. Jadi menggigil antara karena sakit kontraksi dan kedinginan, hehe..

Selesai mandi dan ganti baju yang bersih. Terasa segar sedikit, sakit masih menggigit. Si Mas keliatan lelah, jadi daku persilahkan pulang untuk istirahat di rumah karena sebentar lagi Ibuku bakal datang. Daku masih bertahan dengan rasa sakit. Bukaan ga nambah-nambah juga. Kanan-kiri sudah pada melahirkan. Ada yang baru datang sudah sukses brojol. Tambah keki ah!! Giliranku kapaaaannnn...

23 Mei 2012

Si Ka'api

Assalamualaikum..
Hari ini berjalan seperti biasa, hoammmhh a lil' bit boring, merindukan masa-masa sibuk. Seperti waktu Dinar masih baby yang selalu bergantung pada sang emak. Sekarang kan Dinar sudah mulai belajar mandiri, iyalah secara bulan Juli nanti beliau sudah berusia 3 tahun. 

Sedikit-dua dikit terpikirkan juga mau memulai bisnis apa yang kira-kira bisa dijalankan dari rumah sambil tetap bisa menjaga rumah dan anak. Tapi apa?? Langsung pening deh, kalo mikirin hal ini.. Nah, hebak kan, belum mulai aja sudah pusing-pening, haha! 

Ini adalah hari ketiga Dinar keliatan hilang nafsu makannya, emak mulai ketar-ketir nih.. Masa' cuma ngemil Koko Krunch doang?? Jadi demi mengusahakan supaya beliau mau makan, daku ajak kemaren sore ke Mal Lembuswana. Mungkin suasana ramai bisa membangkitkan nafsu makannya kembali. 

Pertama-tama daku ajak main di Timezone dulu, alah duduk pencet-pencet tombol segala mainan yang ada aja kok.. Dinar ga peduli pun kalo ga main beneran, belum ngerti banget kali yeee.. Puter-puter di dalam Timezone, baru ditawarin makan eh langsung "iyaaakaaahh".. Itu jawaban Dinar yang artinya "iya", karena sering ditanya dengan akhiran -kah, ex. "Dinar mau makan kah??" atau "Dinar mau memeh kah??" jadi she think jawabannya juga mesti pake -kah, hihi.. Tapi berlaku untuk iya saja, kalo menjawab "enda" (engga) ya enda aja, ga pake -kah ujungnya.

Alhamdulillah, habis jatah satu porsi ayam dan nasi putih di Texas Fried Chicken. Tapi seperempatnya emak bantuin ngabisin ya Dinar, daku laper jugak soalnya, huhu.. Abis kelar urusan makan, apalagi, window shopping lah kami berdua. Rencananya ga mau beli apapun, tapi tiba-tiba Dinar liat ada boneka karakter Thomas yang disebutnya "ka'api" alias kereta api. Niat suci mau mengajarkan Dinar untuk sabar dan ga terbiasa setiap kali menginginkan sesuatu langsung bisa didapat, daku bujuklah beliau untuk belinya nanti kalo Ayah pulang, "ntar belinya sama Ayah aja ya..". Pertama Dinar oke, turunlah kami ke lantai dua. Dan mulailah drama tarik tangan dan menyeret ibunya ini untuk mencari si Thomas. Dia ga denger satu bijik katapun dari emak yang menjelaskan bahwa kita ga bisa beli sekarang ka'api-nya.

Hoahhh, kesian juga sih, karna Dinar ni biasanya jarang kebelet minta belikan mainan. Seringkali, dia bisa dibujuk untuk bilang "dah, bye" sama mainan apapun yang menarik perhatiannya. Seingatku ini adalah kali kedua, sebelumnya pernah juga beliau ngebet sampe emosi minta dibeliin mainan pancingan ikan. 

Pendek cerita, akhirnya.... emak menyerah dengan beranjak ke toko khusus mainan di lantai dasar. Dapetlah satu bantal dengan karakter Thomas. Ga sebagus yang di atas tadi sih, udah males aja kalo mau naik lagi.  Alhasil, sampe detik ini pun daku menyesal ga beli yang di lantai 3 tadi aja, huaaaa.. Dinar sih oke,  si ka'api langsung dipeluk, sambil bilang "bayay dulu" (bayar dulu). Sudah ngerti tiap abis belanja mesti bayar dulu, pengalaman karena sering diajak belanja bulanan, :p

Model yang ada di lt.3. Gbr dari Google lah yawww..

Dari toko mainan, mesti belanja dulu di Foodmart. Ada titipan dari si Ayah. Hei, belanja kali ini sungguh berbeda loh. Karena ada si ka'api, Dinar anteng duduk di trolley. Dipeluk, dicium, dan kadang-kadang Dinar sampe ketawa terkikik sendiri.. terlalu senang sepertinya sudah punya ka'api sendiri yang biasanya cuma ditonton di titop (laptop). 

Tenang sedikit emak belanja jadinya, biasanya Dinar kan heboh sendiri. Lain arah emak, lain juga arah tujuan beliau. Sampai di rumah, si ka'api langsung dipamerkan ke segenap warga rumah. Ketawa ngikik pun masih kencang beredar, haha!

Puas memeluk ka'api sampai tertidur

Saking eksaitednya semalem sampe jadi kemaleman banget baru Dinar bisa tidur. Jam 11 malem baru k.o :)
Efeknya tadi pagi jadi kesiangan dah, setengah 9 baru bangun, beb.. Itupun mulai dari ngebangunin pake cium sayang, gemes, sampai gisangan ganas karna Dinar masih merem rapeeeettt..

Bangun-bangun yang dicari si ka'api. Ahaha, emosi lah si Dinar pas daku bilang ka'apinya dicuci. Emang daku cuci dulu, karena takut kotor. Entah sudah berapa lama ada di pajangan, kan.. 

Sanggup menunggu ka'api kering di tiang jemuran, muahaha!


Sambil menunggu, mari jalankan proyek menggunduli daun tanaman nenek!

Memang ga bisa menunggu sampe bener-bener kering, dah ah.. Biarin lah masih basah-basah dikit, udah diturunkan dari jemuran. Dinar kebelet mau meluk ka'api aja sih..

Sekian cerita hari ini, bayyy!

19 Mei 2012

Si Lumba-lumba

Asalamualaikum..
Hari Sabtu ini cerah banget oyyy! Semangat menjulang tinggi, pengaruh efek cemerlangnya sinar matahari. Tadi pagi sudah ke pasar, belannja kebutuhan buat selamatan haulan almarhum Kai (Bapaknya bapak daku) yang insya Allah dilaksanakan malam Senin nanti. 

Kewajiban bagi yang masih hidup dan bernafas ini untuk berkumpul dan membacakan Yassin dan do'a untuk almarhum. Semoga Allah memberikan rahmat dan segenap ampunan bagi almarhum, amiiinn.. 

Mau cerita nih, tentang tur kita kemaren.Tur bangeeettt dah ah, lol..

Jadi ceritanya, sudah beberapa waktu di Samarinda datang rombongan dari Ancol, Jakarta yang menyajikan pertunjukan satwa dan lumba-lumba. Si lumba-lumba!! Inget lumba-lumba tuh otomatis nge-klik ke.. siapa?? Tol, Bondan Prakoso. Jaman dahulu kala, taun 80-an lagu itu top behhh. Ada pulak yang ngaplot ke Youtube, hehe.. Nih, daku masukin sini deh sekalian, mari nyanyi sama-sama yoooo, si lumba-lumba, bermain bola, yayyyyy!! 

Video courtesy Youtube

Kira-kira Bondan reaksinya kalo liat dirinya di video klip ini, gimana ya.. Secara, daku sendiri kalo liat foto-foto lama, eh rasanya luar biasa nista memalukan, sudah baju modelnya ngembang pake busa di bahu, belum lagi posenya, bagian rambut pulak keriting mengembang, alamakjay..cuihhh! 

Koreo-nya yang paling ga nahan ya, kahkah.. Nasib dikau lah bro, sudah jadi artis sejak kecil. Orang tau penampakan versi jadul dirimu. Tapi sekarang dia keren, beda sama dulu deh.. Doh, pengen cubit pipi dia nih!!


Jadi inget waktu daku sekolah di TK, ada teman sekelas orang sunda yang wajahnya mirip banget sama kangmas Bondan, ahaha, kenangan lama mulai suka-suka sama anak cowo... Taelaaaa, masih TK jugak.. Dinar jangan tiru emak ya, :)

So, kami grup Tiga Serangkai, familyband terdiri dari Ayah, Ibu (daku) dan Dinar pergi ke lokasi panggung pertunjukan di lapangan sepak bola Gn. Kinibalu. Dapetnya tiket untuk pertunjukan jam 5 sore. Masih ada waktu sekitar 45 menit, jadilah main-main dulu di playground yang ada di halaman. Lumayan, daripada boring nunggu. Dinar hepi sampe ngakak-ngakak karna bisa loncat-loncat di kastil mainan dari balon raksasa.


Dinar ni kan, paling takut jatoh. Jadi pertama naik ke balonnya, ekspresinya lucuuu karena pertama kali dalam hidup menginjak dasar yang bisa mentul-mentul. Pas jatoh terduduk, wajahnya panik tapi abis tu langsung senyum eksaited, eh ga sakit!

Bukan hanya Dinar yang girang ternyata...

Main loncat-loncat sepuasnya, yuuuk mareee, sampe akhirnya dia kecapean. Beli cemilan dulu, trus langsung masuk ke tenda pertunjukan karna pintu masuk sudah dibuka.


Aksi pintar Berang-berang, Singa laut dan pastinya si Lumba-lumba..

Lumayan buat hiburan, karna di Samarinda ga banyak sarana hiburan keluarga begini. Tapi, daku agak terganggu sama sound system yang cempreng, sakit telinga kaka.. Kalo mal sih ada banyak tapi males juga kalo nge-mol mulu, bawaannya jadi laper mata-laper perut. Sungguh membahayakan kondisi dompet dan rekening bank, hoho..

Dinar ga berfoto sama Lumba-lumba dan Singa laut. Biasa, dia kan penakut sama yang kaya gituan. Sama  bawang bombay aja dia takut, wkwkwk.. Maybe, nanti kalo udah agak besar, dan udah agak berani baru deh, karena pertunjukan lumba-lumba ini selalu datang lagi entah mungkin dua tahun sekali. Yang pasti nanti pas dateng lagi baru kita tawarin Dinar buat foto bareng sama si lumba-lumba. Ga mau maksain, biar dia inget dia have fun melakukannya.

Pulangnya makan Mie Ayam dong, di depan GOR Segiri. Daku dan Dinar share makannya. Lahap sodara-sodari! Dinar ga sempat makan soalnya, bangun tidur siang langsung disiapin buat berangkat nonton si lumba-lumba. Hehe, bagus punya mak.. Ketahuan MIL langsung dimarahin pasti daku. Eh, tapi kan beliau ga baca blog ini, jadi aman.. :)


Mie ayam sedappp! Gambar dari Google. Maklum anggota familyband laperrr mengganas langsung menyerbu mie ayam di hadapan, lupa deh mau jepret-jepret dulu. Tapi penampilannya mirip sama yang difoto kok. Slurrrpppp!! Heaven beb..

Okay, sekian ceritAkoe kali ini. Emak mau nyuci botol susu Dinar yang sudah kotor semua. Ntar bangun tidur dia pasti mau mimi'.. I gotta go, see ya!

24 April 2012

Pregnancy Stories Part II

Selamat pagi dunia... 
Semoga damai dan keberkahan selalu dianugerahkan oleh-Nya untuk kita semua, amin...

Pengen melanjutkan cerita tentang karunia terindah yang diberikan oleh Allah SWT kepada seorang perempuan yang telah menikah. Merasakan denyut kehidupan yang berdetak semakin kencang dari hari ke hari di dalam tubuh ini adalah pengalaman luar biasa bagi daku.. 9 bulan bukan waktu yang sebentar untuk menikmati masa kehamilan. Tidak selalu mudah dan indah tapi hampir pasti akan berakhir bahagia.

Dinar, kalau suatu hari nanti dikau membaca cerita ini, percayalah bahwa Ibu sungguh ikhlas merasakan semua pengalaman selama mengandung dan membesarkanmu. Menikmati setiap detik rasa mual dan kuatnya gerakanmu di dalam rongga perut Ibu yang semakin hari semakin bulat membesar. Sampai-sampai, Ibu ga bisa duduk tegak karena terganjal Dinar yang "numpang" ngetem di perut.

Berjanjilah untuk menjadi anak yang baik, manis dan menyenangkan karena cuma itu yang Ibu mau, terserah nanti Dinar bagaimana menjalani hidup tapi berjanjilah untuk tidak menyakiti hati Ayah dan Ibu. 

Susah payah Ibu menjaga Dinar setiap hari dan penat lelah Ayah bekerja untuk memenuhi kebutuhan Dinar, setitik pun bukan untuk dibalas dengan kata-kata kasar dan perlakuan yang tidak pantas. Kami berdua adalah orangtua yang akan berjuang sampai menutup mata demi melihat Dinar bahagia, sedikitpun tidak mengharapkan balasan materi atau harta. Cukup dengan menjadi anak yang bisa bertanggung jawab untuk diri sendiri, itu sudah memadai. 

Adeuuuuhhh, ngetik sambil bercucuran air mata inih.. Terbawa suasana banget..

Back to the memories...
Berawal dari setitik air, Allah jadikan segumpal darah dan kemudian tumbuh berkembang menjadi  janin yang sehat. USG yang di kanan atas, itu adalah pertama kali check ke dokter dan disahkan hamil walaupun belum terlihat apa-apa, hanya ada kantong kehamilan. Berikutnya setiap sebulan sekali daku dan suami akan check keadaan kandungan ke salah satu rumah sakit di Sengata. Naik motor doang menempuh rute "offroad" Bengalon-Sengata sekitar 45 menit perjalanan. Maklum, di Bengalon ga ada dokter kandungan dan ga ada mesin USG, sementara emak kan heboh mau liat penampakan baby yang sebenernya ga jelas terlihat apanya, tapi tetep heboh aja mau "nonton", ha ha..

Bulan berikutnya kalau suami cuti, maka pergilah kami liburan ke Samarinda. Sambil menahan mual yang tambah berkali-kali lipat karena numpang mobil travel yang supirnya bercita-cita jadi kaya' Michael Schumacher, emak tetap kukuh untuk berangkat karena berharap bisa menajajal makanan yang selama beberapa waktu cuma ada di angan-angan.. Sebuah cita-cita yang harus kandas karena perut ini belum bisa menerima makanan-makanan tersebut, perjalanan dari rumah ke Lembuswana Mal aja adalah penyiksaan tersendiri karena sepanjang jalan kok banyak banget yang jualan nasi goreng dan sate. Alamak, baunya..!! Hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengeluarkan kembali beberapa suap cemilan yang telah susah payah dimakan..


Foto USG saat Dinar masih berumur sekitar 4 bulan di dalam rahim. Masih gonta-ganti dokter, kadang di RS. Haji Darjat dan kadang di RS. Dirgahayu. Ga ada yang ganteng sreg di hati... Ibu hamil kan cerewet, he he...

USG terakhir, hanya 2 hari sebelum Dinar lahir. Sejak bulan ke 6, akhirnya emak cucok sama dr. Handy SPOG yang praktek di daerah Antasari. Kalau pas ke Samarinda, kontrolnya ya ke beliau.. Dinar lahir pun dibantu oleh beliau..

Oya, barusan inget kalo lagi ada di Samarinda, pas hamil waktu itu kok jadi hobi banget sama yang namanya Bakso. Biasanya beli di Bakwan Bintang Malang di Jl. DR. Sutomo. Masya Allah, nikmatnya kuah bakso yang masih mengepulkan uap panasnya, ampuh menghilangkan rasa mual... Sambil komat-kamit baca doa, semoga ga ngefek ke baby, tau sendiri kalo makanan yang dijual itu kita ga sure soal kebersihannya, belum lagi soal penyedapnya yang kadang berlebihan.. Alhamdulillah, Dinar lahir sehat...



Dinar kalo liat foto ini, bilang " gendut peyut ibunya, ada adek di peyut ibu.." He he.. Belum "ngeh" dia, apa yang sebenarnya terjadi....

23 April 2012

Pregnancy Stories Part I

Salah satu tujuan dari membuat ceritAkoe adalah untuk mengabadikan secara tertulis dan tersurat tentang perjalanan hidup dan suara hati saya sebagai perempuan yang menjalani peran sebagai istri solehah dari seorang suami yang terbaik di mataku, ibu dari seorang anak gadis bernama Dinar dan merangkap juga sebagai akuntan, kasir, chef masak-masak, petugas cleaning service, penjaga rumah 24/7, dan off course toddlersitter..

There's a lot of story sehari-hari yang harusnya bisa dijadiin entry di sini, tapi kalau sudah datang si "M" alias MUALESSS, jadilah story tersebut berlalu begitu saja, hu hu... Sayang banget... 

Hari ini mau cerita tentang pengalaman pas mengandung anak pertama, my adorable Dinar... Mumpung semangat inih, ntar dateng males lagi, bahayaaaa..

Well, setelah daku dan suami menikah tanggal 11 Oktober 2008, beberapa hari kemudian emang daku kedatangan "tamu" seperti biasa setiap bulannya. Kata orang, alamat bakalan cepet "jadi" karena pas masa subur apa gimana gitu, ga ngerti juga penjelasan secara ilmiahnya bagaimana.. 

Sekitar seminggu abis nikah, sang pasangan pengantin baru pun boyongan ke daerah pedesaan nan permai Bengalon, Kab. Kutai Timur. Sekitar 6 jam perjalanan terguncang-guncang karena kondisi jalan yang ngalahin permukaan bulan, (emang pernah ke bulan, cyyyynnnn???) dari Samarinda. 

Sudah menjadi komitmen dan perjanjian tidak tertulis antara kami, bahwa daku akan mengikuti suami tercinta yang waktu itu bekerja di PTDH. Istri solehah, kaaaannn... Ahaks!! Waktupun bergulir tak terasa dalam kebahagiaan menjalani peran baru sebagai istri, (kata-kata minta ampun gayanya..) dan bulan berikutnya, sang "tamu" yang ditunggu ga juga datang. Sudah berdebar-debar, dalem ati "Ah, masa sih??", "Yang beneeer??", "Sumpeh looo?????" dan kalimat-kalimat serupa yang silih berganti muncul di benak ini. 

Saat testpack menunjukkan dua garis, dada ini seakan meledak karena silikon pecah kebahagiaan luar biasa.    Waktu itu cuma sendirian di rumah karena suami masuk kerja siang, mesti nunggu sampe pulang ntar malem baru bisa berbagi kebahagiaan. Ga seru mak, kalo beliau dikasi tau lewat telpon... kan, kan, kan???

Masih inget ekspresi my dear husband pas daku sodorin testpack dengan 2 garis tersebut, senyum-senyum agak melongo dikit karena ga ngerti apa arti 2 garis tersebut, hi hi.. "Selamat, mas sebentar lagi mau jadi ayah..." baru deh, senyum lebaaaaarr sampe ke kuping... :p

Memang luar biasa kemudahan bagi kami untuk mendapatkan anak pertama, nyaris tanpa usaha berarti, he he.. Tapi, sungguh babak baru sebagai ibu hamil bukan sesuatu yang sangat indah seperti di iklan-iklan susu untuk ibu hamil. Kenyataannya, mabuk yang lumayan parah harus dijalani dengan sabar. Bayangin deh, kalo dikau mabuk di perjalanan, mumun dan jackpot berulang-ulang, lemes dan kuyu karena kecapean mumun terus, bedanya di perjalanan hanya hitungan jam dan hari, setelah sampe di tujuan semuanya akan membaik, tapi mabok hamil bisa berbulan-bulan!!

Ga ada jaminan bahwa mabok akan berhenti kapan, karena kondisi tiap perempuan akan berbeda bahkan untuk orang yang sama, kehamilan pertama dan berikutnya bisa berbeda kondisinya. Maha Suci Allah... Dengerin omongan tetangga, bahwa mabok akan hilang menjelang 4 bulan, tapi ternyata ga berlaku padaku tuh... Masuk bulan ke 6, barulah rasa mual dan mumun itu perlahan memudar dan saat itulah daku balas dendam bisa makan enak tanpa mikirin rasanya saat keluar lewat mumun lagi.. Sebelumnya emang daku menghindari makanan dengan rasa yang tajam dan berbumbu kuat karena pas jackpot rasanya bakal luar biasa amburadul...


Inilah diantaranya yang menemani daku saat mabok melanda... Minyak kayu putih emang selalu digenggam, anytime mual dateng, langsung tumpahin aja di daerah perut, tengkuk dan dicium-cium wangi pedesnya. Lumayan buat mengurangi mual. Ga inget berapa botol yang dihabiskan selama masa-masa mabok bae ini, yang jelas, BANYAK!!

Karena sangat sedikit jenis makanan yang bisa masuk, termasuk jadi benci setengah mati sama nasi, jadilah daku cuma bisa ngemil makanan ringan. Soyjoy, kacang pistachio dan kismis yang khas dari Arab yang khusus diimpor dari Samarinda, kalo laper tinggal cemil dikit-dikit.. Persediaan cemilan emang distok khusus. Dulu juga pengen banget Anak Mas, mie kering yang bisa langsung dimakan. Udah ga diproduksi lagi ternyata, padahal udah kebayang bungkusnya yang warna gold itu.. sebagai peran pengganti dikirimin sama my mom, Mie Gemezzz... Sedapnyaaaa... walopun cuma berani sedikit banget naburin bumbunya, karena ga bagus kesehatan janin. Thanks mom!!

Mood swing juga dahsyat pas hamil ini, mungkin karena cape sama mual yang ga ilang-ilang, jadilah emosi susah dikontrol. Yang jadi korban  siapa lagi, suami lahhh.. Dipikir-pikir, kesian juga beliau. Udah capek pulang kerja, makanan ga ada even nasi sekalipun, masih dimarah-marahin pulak... Lagipula sebenernya kan saat itu masih waktu asimilasi bagi kami berdua, hal-hal yang sebelumnya ga terekspose perlahan muncul dan beberapa diantaranya memicu kebetean. Alhamdulillah, tertatih tapi kami bisa melewatinya...

Sekarangpun, si Ayah masih inget banget kejadian pas baru pulang kerja dan daku sudah ngamuk-ngamuk karena (in my opinion) beliau ga ngerti betapa menderitanya daku karena sangat kelaparan, tapi mau makan ga bisa coz keduluan mual. Mbok ya, istrinya ini ditanyain gitu "mau makan apa, say?", apa diajakin cari makan apa gitu, ditawarin alternatif makanan apa yang kira-kira ga bikin mumun... Tapi, ga satupun yang dilakukan, hu hu... Beliau pun terbengong-bengong dan hampir naik juga emosinya karena udah cape kerja, baru pulang disambut istri gendut yang mukanya pecah seribu, masam semasam-masamnya...

Eh, bersambung yaaaaa....

17 April 2012

Demi Masa

Lagi ngebongkar koleksi foto di lappy, mendadak jadi kangen banget saat-saat Dinar masih baby... Duh, cepatnya waktu berlalu... Dulu masih belum bisa melangkah sendiri, emak sibuk kecapekan, sampe sering juga manggil mbah urut, maklum bodi Dinar kan bohayyyy, jadi tukang gendong capek euyyy... Sampe lengan berotot kekar, hehe, alesan... Padahal tangan memang besar karna gendutssss...

Kalo sekarang Dinar ditawarin gendong sudah nolak boooo... "Jalan aja.." katanya... Huaaaaa, sedih bundo, nak... Kadang-kadang suka daku gendong paksa, saking gemesnya... Biar pun berat badan Dinar 20 kilo-an, relaaaa asalkan bisa gendong...

Inget banget jaman dulu, mesti jadi penunggu ayunan karena Dinar terbiasa tidur dengan ayunan yang goyang nonstop. Ditinggal sebentar aja, pasti langsung bangun, dia ngerti aja ayunannya berenti gitu.. Jadilah emak mengayun sambil baring dan tidur-tidur ayam, per ayunan mesti goyang teroooossss... Mandi sama urusan ke belakang juga mesti high speed, kalo ga ya Dinar bakalan nangis kebangun. Hehe, kebayang urusan "buang-membuang" mesti dicepetin??? Kaga nikmeeeehhhh, beibeh... Tapi, mau gimana lagi, having a baby berarti harus berdamai dengan keadaan yang ga sama seperti sebelumnya kan???


Karena sehari-harinya kami lebih banyak berdua-an di rumah ditinggal Ayah kerja mencari segenggam berlian  jadilah Dinar mesti nempel sama emaknya ini, sampe-sampe ke toilet juga Dinar mesti "diangkut" juga... Habis, ga mungkin ninggalin my baby sendirian gitu, takut diculik orang, hishhh...

Untungnya waktu itu my dear husband kerja dengan jadwal yang agak santai. Jadi, tiga hari masuk siang, tiga hari masuk malam dan tiga hari off. Waktu off adalah saat yang paling ditunggu-tunggu karena artinya daku bisa tidur nyenyak walopun sebentar dan sejenak melupakan soal "genjot ayunan", jadi biasanya kami berdua gantian tidurnya.

Tapi, walopun sibuk mengurus baby Dinar yang kiyut sampe diri sendiri pun ga keurus, ibaratnya nyisir sama "bepupur" pun ga sempat, tapi senang kok... Hepiiii banget melihat perkembangan Dinar dari waktu ke waktu.. Sibuk joget-joget pas liat Dinar bisa merangkak..

Pssssttt, perkembangan Dinar nih agak "kacau" sebenarnya... Kalo anak lain umumnya, miring-miringkan badan dilanjutkan tengkurap/tiarap. Abis itu bisa bolak-balik sendiri tiarap-telentang lalu ngesot dengan dada ke arah depan (ada juga yang mundur, sih..), lanjut posisi merangkak dan beneran merangkak. Lalu belajar berdiri dan akhirnya berjalan.

Dinar laen sendiri dooong.. Jadi, pertama dia miring-miringkan badannya terus posisi tiarap, tapi Dinar ga pernah bisa bolak-balik antara tengkurap-telentang, tapi langsung bisa duduk!!! Disandarkan dipangkuan gitu ya, bukan duduk sendiri, (boong kalo ada bayi bisa duduk sendiri, hihi..) tapi tulang belakangnya sudah kuat, jadi kita cuma menyangga dadanya aja..

Next dari duduk dia langsung mau belajar berdiri, dan suka banget kalo dikasi posisi berdiri dan kita pegangin keteknya. See, jadi fase merangkak mau di'skip' sama nona muda ini.. Emak browsing sana-sini, katanya emang ada anak yang ga merangkak dan perkembangannya ga ada masalah, tapi ada juga yang mengalami masalah keseimbangan saat remaja, bisa jatuh sendiri pas lagi jalan gitu akibat ga merangkak waktu kecilnya. Bermasalah di keseimbangan.

Ternyata, saat merangkak, ada koordinasi yang terjadi antara otak kiri dan kanan yang pastinya berdampak positif untuk perkembangan seorang anak. Jadi, waktu itu daku dan suami memutuskan untuk berusaha membuat Dinar merangkak. Kami mencontohkan bagaimana cara merangkak waktu Dinar umur 8 bulan-an, jadilah emak dan ayah main kejar-kejaran dalam posisi merangkak di depan Dinar sambil heboh memancing supaya Dinar ikutan juga merangkak... Dan berhasil!! Dinar lancar jaya merangkak maju di usia 9 bulan, di saat yang sama sudah betah banget berdiri, dipegangin di ketek itu.. Hei, diinget-inget lagi kalo ada yang liat kami waktu ngajarin Dinar merangkak pasti ngakak abis dehhhh, hihihi...


 Dari masa ke masa...


Foto masih baby kebanyakan diambil di Bengalon yang panas membara, bikin kulit kita semua jadi kecoklatan eksotis gituuuu.. Jangan heran liat Dinar pas 6 bulan itu, kok "burem" banget penampakannya... Biasanya kalo Ayah cuti, kita ke Samarinda, nah biasanya Dinar jadi agak bersih kulitnya dan begitu balik ke Bengalon, pasrah jadi item lagi dah...

Dinar nih, lidahnya kaya burung Beo yang tiap hari digosok cincin emas, hehe.. Ngomongnya lancar dari umur setahun-an, belum bisa menyambung jadi kalimat sih, tapi dia bisa menyebut nama benda atau sesuatu yang dilihat dengan benar dan jelas. Disaat temen seumurannya masih pake bahasa tarzan dan main tunjuk-tunjuk, Alhamdulillah Dinar sudah bagus pronounciation-nya...

Pengaruh emak yang "aktif" bicara, kata si Ayah... Heheh..

Sekarang apalagi, pinter banget menyatakan kemauannya dan nyuruh-nyuruh orang.. Mem-Beo pun masih,  sekali denger langsung dicopy-paste, ooooppppsss, emak ga boleh salah ngomong nih...

Cepatnya waktu berlalu, beneran kangen sama masa-masa gendong baby dan terkurung di rumah karena sibuk merawat anak manusia mungil yang tak berdaya... Sekarang lagi puas-puasin cium Dinar, dari cium manja, cium sayang, cium gemes, sampe cium ganas!! Ha ha ha... Bentar lagi dia udah ga  mau dicium, huaaaaaaaaa...

4 April 2012

Dinara, On Action

Dinar kalo udah nonton, beeehhhh, suka ga inget dunia...
Hihi..



Ini lagi,
Nasty Faces... Aduh-aduh, anak gadis kok yo iso koyo' ngene to, nduk...





Naaaaaaaa, gitu baru kiyut anak Ibu
 ^_*

25 Maret 2012

Narsis lageeee...

There she is, my lovely daughter...




19 Maret 2012

Upin & Ipin Addict



Not me, tapi Dinar dooong yang bener-bener tergila-gila sama kartun asal Malaysia, Upin & Ipin... Sejak dia bisa pegang hp sendiri sekitar umur setahun-an Dinar sudah jadi fans berat loh, sanggup berjam-jam nonton berbagai cerita yang disajikan dalam bahasa Melayu... Emak pun siap mengunduh dari Youtube, hampir semua episodenya.. 
Waktu itu, di MNCTV juga ditayangkan setiap menjelang maghrib, kalo udah gitu si Dinar udah rapi jali duduk manis di depan tv deh...

Sampai sekarang usia Dinar 2y8m, Dinar still be a loyal big fans of the bare twins... :)
Kalo ada episode baru, emak juga selalu siap mengunduh lagi dari Youtube... Yang penting anak senang, lalala...

Karena sekian lama sudah menonton berulang-ulang, Dinar sampe hapal banget dialog dan adegannya... Bicara pun sudah dalam logat dan dialek melayu ala Upin & Ipin... Kalo ditawarin sesuatu dan dia ga mau, she'll say "Tak Nak" dan kalo ngajak kita melakukan sesuatu, she'll say "Jom"...

Baru-baru ini, kami mengajarkan Dinar nyanyi Satu-Satu Aku Sayang Ibu, dan hasil akhirnya Dinar tetap menyanyikannya dengan dialek Melayu yang kebanyakan menyebut "a" dengan "e" seperti pada emas...

Jadi, seperti ini lah kira-kira,
Catu-Tatu Dinay cayang Ibu
Due-due Dinay cayang Ayah
Tige-tige cayang ade-kakak
Tatu-Due-Tige, cayang cemuanya....

hehehe....

15 Februari 2012

I'am Back!!!

Yuuuuhuuuu,
Apa kabar cemuanyaaaahhh...
Lama ya daku ga nulis di ceritAkoe, mau gimana lagi, sebagai perempuan yang termasuk kategori kesabarannya minim akoe ga tahan nungguin koneksi internet di Labanan yang luar biasa lambat. Terutama di hari-hari terakhir kami di Labanan.. Banyak cerita yang bisa ditulis sih, dibikinin draft di Microsoft Word, tapi setelah diliat-liat lagi kok kayanya jadi ga cucok sama sikon sekarang, rada basi gitu deh... hehe... Sayang sih, tapi daripada dipaksain malah jadi gimanaaaa gitu, mending dipending lagi sampai ketemu momennya yang pas...  Oke pemirsa...???

Cieeee, jadi ceritanya daku mau eksis lagih... Sayang kalo banyak story jadi "terlupakan" begitu saja... Kalau ceritAkoe banyak yang ikutan baca ya silahkeun, tapi intinya tetap agar perjalanan hidup kami sekeluarga bisa terdokumentasikan dengan baik.. Begicuuuhhh...

Jadi, setelah si Ayah datang menyusul dari Samarinda ke Labanan pada tanggal 27 Januari, kami jadi bisa berkumpul lagi deh, berpelukaaaaannnnn... Senangnya.... Sebulan terlama dalam hidup pokoknya perpisahan kami yang kemaren itu, menderita karena ga bisa bertemu untuk berbagi cerita dan rasa... Mudah-mudahan ga terulang lagi dan kami bisa berkumpul syelalyuuuu...


The Best Two of My Life

Sepuluh hari berlalu dengan cepat, dan tanggal 5 Februari 2012 sesuai dengan rencana akhirnya kami pun kembali ke Samarinda meninggalkan Mbah Putri, Mbah Kakung dan Om Tri (adik iparku). Pake acara nangis-nangis dong di bandara, tapi akoe engga tuh, menantu berhati batu sepertinya, huahaha...

Gini lo, bukan karena ga sedih harus berpisah sama mereka yang udah baik banget selama ini sama kami semua, tapi emang dasarnya akoe ga bisa nangis kalo berada dalam suasana melankolis gitu.. Sok-sok tegar, padahal dalam hati ya terenyuh juga...

Alhamdulillah perjalanan lancar dan kami sampai dengan selamat di rumah sekitar jam 1 siang. Dinar juga seperti biasa asik-asik aja selama di pesawat dan di mobil dalam perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda. Kembali lagi ke rutinitas harian di dalam rumah, jadi susah deh mau main bola lagi... Jadinya, sore-sore akoe dengan senang hati ngajak Dinar main bola di halaman Masjid di dekat rumah, abis cuma di situ ada tempat agak lapang  dan aman buat maen... Mana kemaren-kemaren hampir tiap sore ujan, jadi emak mesti lebih kreatif ngajakin Dinar main di rumah supaya lebih aktif bergerak, trus jogging keliling kompleks biar sehat dan ga jadi perawan tambun.. Hehe...

Ih, amit-amit ya nak..
Ntar kalo udah gede, udah sekolah.. Dinar sering-sering nge-gym, sepedaan, berenang sama main futsal ya.. Biar bodi ga melebar karena tumbuh tu ke atas, bukan ke samping... Otreeee...

...Happy Face...

15 Januari 2012

Cacar yang Galau atau Impetigo nan Minder?


“Sehat itu Mahal”, tapi sakit itu juga ga kalah mahal menurutku, he he… Coba deh, sekali ke dokter aja habis berapa, belum lagi obatnya… Ga kurang 300 ribuan tuh kalo ke dokter spesialis..

Di perusahaan tempat si Ayah kerja yang sebelumnya, kami tenang-tenang aja kalo sakit ga pake mikir langsung ke dokter atau rumah sakit karena 75% biaya pengobatan ditanggung company dan sisanya ditanggung karyawan. Walopun ada juga perusahaan yang menanggung 100%, tapi dengan kondisi -bagi dua- gitu, udah enak lah, no big deal..

Sekarang yang kami punya hanya kartu JPK Jamsostek yang akoe ga tau sebesar apa nilai perlindungannya. Sepertinya sih agak minim yah…  Itupun salah data di kartunya, tercantum pelayanan kesehatan kami ada di kawasan Jakarta. Gimana ceritanya orangnya ada di Samarinda, dokter yang ditunjuk ada nun jauh di sana. Udah minta tolong company buat ngurus tapi sampe sekarang kartu baru yang direvisi belum juga kami terima L

Sehari setelah sampai di Labanan, Dinar demam pas tidur malam dan jadi rewel sekali. Pertama akoe pikir karena mau pilek, waktu itu hujan seharian dan cuaca jadi dingin banget.. Ga bawa stok obat panas, jadi akoe kasi Dinar “dopping” andalan, Stimuno. Akoe memang sering ngasi Dinar pake Stimuno kalo ujung-ujung tangan dan kakinya terasa lebih hangat dari biasanya, dan setelah dikasi biasanya besok udah ok..
Bertahan semalaman sambil berdoa ga putus-putusnya semoga demamnya ga tambah tinggi. Ga pake dikompres karena akoe ga bawa waslap/saputangan handuk dan ga enak mau minta sama Mbah, udah pada tidur soalnya... Dinar ada riwayat kejang demam, yang kejadiannya dulu sungguh bikin jantung ini serasa melorot ke kaki saking kagetnya... Jadi, setiap Dinar demam yang ada akoe langsung ketar-ketir takut kalo terulang lagi kejadian yang dulu itu.. Hiiiihh, amit-amit..

Besok paginya akoe langsung bergerilya nyari obat penurun panas, ke warung-warung terdekat. Dinar sendiri masih terlelap setelah semalaman ga bisa tidur. Alhamdulillah dapet merk yang biasa akoe sediakan di rumah sebagai stok jaga-jaga kalo Dinar demam, dan beli juga satu plester kompres demam.

Seharian dipantau terus panas tubuhnya, menjelang sore ternyata mulai reda demamnya. Tapi di kulitnya mulai muncul bercak kemerahan yang menyebar di sekitar mulut, kaki, tangan dan punggung. Dulu juga pernah kejadian begini, campak. Tapi, akoe baca di sumber Google, campak hanya terjadi sekali seumur hidup. Kalo betul, dulu itu campak berarti yang sekarang ini apa, kalo yang sekarang campak dulu itu apa dong??? (Sengaja mau bikin pusing yang baca, hi hi..)


Di hari ke-2 setelahnya, panas tubuh Dinar sudah normal. Hanya di ujung-ujung jari tangan dan kaki masih terasa hangat. Bintik kemerahan semakin banyak dan terlihat jelas. Tapi, yang mengkhawatirkan adalah muncul bintik yang lebih besar dan berisi cairan di sekitar pantat dan sela-sela paha. Baru kali ini akoe liat yang model begini… Kulit Dinar jadi keliatan jelek banget…

Akoe ajak Dinar ke Puskesmas untuk berobat. Dapet 5 macem obat, ada cairan Gentian Violet untuk sariawannya, Antibiotik untuk radang tenggorokannya, Salep untuk brintilan di kulit dan puyer, serta tablet putih kecil yang akoe ga sempet nanya tadi apa karena Dinar terus-terusan nangis karena banyak orang ‘asing’ di sana..

Dari sekian banyak obat yang dikasi dokter akhirnya akoe cuma kasi antibiotik untuk radang tenggorokannya. I know, I know, radang tenggorokan bukan disebabkan oleh bakteri yang perlu pengobatan dengan antibiotik. Tapi, beberapa kali Dinar kena radang tenggorokan akoe pernah bertahan dengan vitamin dan istirahat untuk memulihkan daya tahan tubuhnya, tapi ga berhasil. Ujung-ujungnya mesti menyerah pada antibiotik dan emang sembuh sih… Gimana dong??

Bukan, bukan juga karena ngerasa sok pandai sampe berani memutuskan seperti itu, akoe hanya melindungi Dinar dari pengobatan yang tidak perlu. Buat apa ngasi seabrek obat kalo sebenarnya semuanya bisa diatasi dengan daya tahan tubuh yang baik. Sebaik-baiknya obat punya efek samping buat tubuh,  that’s why, akoe memilih untuk meminimalisirkan efek tersebut dengan hanya memberikan obat yang perlu untuk dikonsumsi anakku.

Puyeng sama keadaan Dinar, Emak pun langsung sibuk browsing sana-sini untuk cari tahu apa penyakit yang sebenarnya menyerang anakku tersayang. Dapetlah beberapa ‘tersangka’ sesuai dengan ciri-ciri yang ada, tapi ga pas banget, jadi tambah pusyiing…

Jadi, dibilang cacar kok hanya ada di bagian pantat, kan biasanya seluruh tubuh. Dibilang Impetigo kok bintilnya kecil, penampakannya berbeda dari yang ada di Dinar. Akoe ga tahan banget liat kulit anakku yang biasanya terang jadi butek gitu, akhirnya akoe bawa lagi Dinar ke dokter, kali ini ke tempat prakteknya langsung. Dokter yang sama waktu di Puskesmas, yang akoe sebenarnya ga terlalu sreg.. Dokter muda yang mungkin usianya sepantaran akoe, tapi bukan lantaran itu akoe trus ga sreg looo.. Ibu dokternya terlalu “ramai” dan buatku do’i jadi terlihat bingung sendiri dengan langkah penanganannya terhadap Dinar.

Do’i menyimpulkan bahwa Dinar terkena Impetigo dan memberikan pengobatan dengan tablet antiviral  dengan dosis yang katanya ekstrim. “Ga papa kan bu, kita coba pengobatan yang agak ekstrim?” dalem hati akoe bilang, “lah mana gw ngerti, yang dokter kan elu.. kok pake nanya gw..”  Dokter yang ga pede kayanya… Perlu tambahan keyakinan dari pasien untuk ngasi tindakan.

Terasa menakutkan melakukan pengobatan untuk anak dengan diawali hal-hal yang kaya gini.. Tapi, Bismillah, akhirnya akoe tetap memutuskan untuk memberikan obat antiviral tersebut sesuai dosis yang disarankan si ibu dokter.

Alhamdulillah… Pelan tapi pasti, bintik mulai berkurang. Semburat merah di kaki dan tangan mulai menipis. Hari ini, bintik yang agak besar di daerah pantat masih ada bekasnya, makin hari semakin menghilang. Kulit Dinar keseluruhan sudah kembali sehat dan terlihat bersih.

Fffiuhhhh, jangan sakit-sakit lagi ya, Nak… Daripada buat beli obat, mending uangnya kita pake buat jalan-jalan keliling dunia…

Setuju???

28 Desember 2011

Fotographer Masa Depan



^___^

27 Desember 2011

....Gigiiiiiiii....

Dinara Safina Althafunnisa



Lagi demen pamer gigi, nih....
 Asal dibilang "giginya mana, Dinar?" langsung nyengir lebar nan sumringah gini.
Ga inget persis foto ini diambil waktu Dinar umur berapa, sekitar setaun-an kayanya... Soalnya Dinar pertama tumbuh gigi pas umur 6 bulan-an, lumayan cepet ya dan sekarang udah 20 gigi aja...

Masih inget pas masa-masa tumbuh gigi susu ini, Dinar pasti demam dan rewel. Bobo malem jadi agak terganggu, emak jadi hipertensi gara-gara kurang tidur, hehe...
Tapi, kalo liat "Senyum Malaikatnya", emak pun ga keberatan mesti begadang nemenin dan jagain Dinar semaleman.

Asal ga tiap malem begadang ya sayang
..............................
Kata eyang Rhoma, "begadang boleh saja kalo ada perlunya". Nek ga perlu, ya mending turu...
Oke, oke?????

23 Desember 2011

Labanan, Tunggu kami...

Thank's God It's Friday...
Tuuuuhhh kan, udah Jum'at lagi... Perasaan baru kemaren deh kena tinggal sama Dinar, eh udah ketemu lagi sama si Ayah... Ini maknanya akoe hepi loh ya, bukan malah ngerasa yang gimana-gimana... Perlu dijelaskan karena bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan dari kesalahan pemilihan kata dan bahasa, he he...

Seminggu lagi akoe dan Dinar akan berangkat ke Labanan, Berau... Kampung kelahiran si Ayah Tercintahh... Hari Jum'at depan, tepatnya tanggal 30 Desember 2011 kami berdua bakal meninggalkan Samarinda Kota Tepian untuk sementara waktu...

Kenapa berangkat tanggal segitu, peak season dong, kan akhir tahun, Natal dan Tahun Baru, harga tiket mahallll betooollll kan????? Iya, tapi cuma hari itu si Ayah bisa nganterin kami ke Bandara Sepinggan... Baru bisa lagi tanggal 13 Januari 2012, terus beliau cuti sekitar tanggal 27 Januari - 3 Februari 2012.. Sementara rencananya, kami ber-3 akan balik lagi ke Samarinda ya tanggal 2 Februari.. (Pusing ga sih kebanyakan angka begini ....???) 

So, kalo berangkat tanggal 13 Januari 2012 ya berarti cuma bisa sebentar dong Dinar ketemu sama Mbah Kakung dan Mbah Putrinya... Kesian lah, sudah kita terakhir ketemu setaun yang lalu... Kangen banget pastinya sama si Tembem... That's why kita prefer pilih tanggal 30 Desember ituhhh...

Tapi yaaaaa.................
Barusan si Ayah bilang kalo ternyata tanggal 31 Desember itu beliau libur dan ada acara Gathering Family Trakindo.... Hu hu... Don't know what to say....T.T
Pengen ikutaaaaan...
Dipikir-pikirin tetep ga ada jalan keluar yang ok... Tiket mungkin bisa diatur, tapi konsekwensinya si Ayah ga bisa nganter ke Balikpapan... Itu ga asik banget dong!!
Ga ada pilihan lain... Kami tetep berangkat hari Jum'at depan.... Melewatkan kebersamaan di malam pergantian tahun... Doakan kami ya, biar selamat sampe tujuan^^



Ini foto-foto setahun yang lalu di jalanan depan rumah Mbah-nya Dinar... Dinar masih 1,4 tahun waktu itu... Suasana di Labanan emang jauh beda sama kondisi daerah rumah Nenek di Samarinda... Di Labanan, kendaraan yang lewat sedikit, karena terhitung masih daerah pedesaan. Udaranya juga segar dan bersih, ga kaya Samarinda yang berdebu dan polusi dimana-mana...

Dinar bisa bebas maen dan lari-larian karena sepi dan emang di depan warung si Mbah ada banyak anak-anak yang biasanya maen. jadi punya banyak temen deh... Secara biasanya cuma maen di dalam rumah dan sama emak mulu... Dinar must be happy karena bisa belajar bersosialisasi...
Cuma di Labanan juga Dinar bisa liat Sapi, Kambing, Ayam, Bebek, Mentok....

Kalo ntar sudah sekolah dan disuruh bikin karangan tentang berlibur di rumah nenek, Dinar jadi punya banyak bahan untuk diceritakan... Ngga kaya akoe dulu, bingung mau nulis apa... Wong, tinggalnya serumah dan ga ada aktifitas yang berkesan untuk ditulis... Nasib, nasib...

Naaahh, karena sekarang lagi musim buah Rambutan dan Durian, jadi makin asik lah buat si emak karena bisa makan buah-buahan itu sepuasnya di sana... Ga berlaku buat Dinar yang sampe sekarang belum nerima diajarin makan buah.... 
Kebayang buah Rambutan seger yang manis bikin akoe bakal nongkrong di bawah pohonnya kapan aja akoe mau.... Eh, Rambutan ga tinggi kan kalorinya, jadi bisa doooong makan sepuasnya... Abis itu siap-siap olahraga bolak-balik ke toilet, pasti beser soalnya kalo abis makan rambutan....

Gitu aja kok, Rambutan di Samarinda juga banyak kan??? 
Wait,... Emang bener di Samarinda juga bisa dapetin buah-buahan segala rupa yang kamoe mau... Tapi, buah yang dijual itu beda loh rasanya sama yang fresh, baru dipetik langsung dari pohonnya... Beneran!!! Belum lagi sensasi saat bisa metik langsung, (pohon Rambutan Mbah itu rendah, jd ga perlu manjat) Sangat menyenangkan!!! Maklum lah, biasanya cuma langsung beli aja.... Satu lagi yang enak, GRATIS!!! Hehe....

Mudah-mudahan koneksi internet di sana bagus, jadi tetep bisa nulis postingan untuk ceritAkoe...

Our Wedding

Our Adorable Princess